In Front Of You

In Front Of
You

Oleh :
MEGA LUNA SULIZTIA
X1 MIA EKONOMI 2

Brruuukkk! “Aduuhhh! berani banget sih kamu nabrak aku! Kamu punya mata gak sih?” teriakku pada seorang lelaki yang wajahnya begitu familiar bagiku tetapi aku tidak mengingatnya. Lelaki itu menatapku dengan wajah yang ketakutan, tapi aku tak peduli apa yang sedang dia rasakan. Entah mengapa hari ini aku benar-benar sial . Ya, benar-benar sial. Kulangkahkan kakiku pergi meninggalkannya seorang diri dengan wajah yang pucat, mungkin karena takut padaku.
Wajah itu, ya wajah itu.. “aahhh! aku tidak bisa mengingatnya, seperti kukenal tapi entah siapa” ucapku dalam hati sambil memegang kepala kananku. Rasa pusing itupun menjadi-jadi, rasa penasaran tentang lelaki itu memenuhi memoriku dan bertebaran dikepalaku. Kusandarkan sejenak punggungku pada salah satu tiang disekolah ini untuk mengurangi beban yang telah letih ditopang oleh kakiku. Dan dari kejauhan sana kulihat sahabatku hendak menghampiriku. Tetapi semakin lama aku melihatnya pandanganku semakin buram dan gelap, dan akhirnya gelap, gelap sepenuhnya.
Samar-samar kudengar suara sahabatku sedang bercakap-cakap dengan seseorang, kubuka mataku secara perlahan, dengan dahi yang mengkerut kuperhatikan sesosok pria dihadapan Kayla sahabatku itu.
“Astaga mengapa dia ada disini? Dan.. apa yang terjadi padaku? Ruangan ini.. siapa yang membawaku kesini?” ucapku dengan penuh tanda tanya.
“Sssstttt! Kamu ini emang cerewet ya, gimana? Udah puas tidurnya?”
“Tidur?” tanyaku balik. “Tadi kamu pingsan, setelah kamu dibawa ke uks kamu malah gak sadar-sadar, jadi aku izin untuk membawamu ke rumah sakit. Aku takut kamu kenapa-kenapa, semenjak….”
“Aaayyyy!! Sssttt!” potongku, karena aku sudah tau apa yang akan Kayla ucapkan.
“Iya aku tau, sorry sayang. Untung saja ada Dave yang mengangkatmu, kalau tidak uhhh mungkin lengan-lenganku sudah patah. Berterima kasihlah padanya” ujarnya
“Padanya? Gak! Gak akan keluar kata-kata terima kasih dari mulutku untuknya sebelum dia meminta maaf padaku.Dave ? Percuma nama kamu sebagus itu tapi nyatanya parasmu sangat buruk!”. Bentakku dengan tatapan sinis pada lelaki itu. Aku langsung bangkit dari kasur dan berniat mengambil handphoneku yang terletak diatas meja. Dengan heran Kayla menatapku atas sikapku yang seperti itu. Kuturunkan kakiku yang hendak melangkah. Tapi apa daya kakiku terasa lemas, itu membuatku hampir terjatuh, tak disangka Dave langsung merangkulku dan menggendongku menuju sofa. Ketika itu juga tiba-tiba dia berbisik ketelingaku “maafkan aku atas semua yang telah kulakukan padamu, aku akan membalasnya suatu saat nanti” ucapnya dengan lembut.
“Maksudmu?” tanyaku bingung.
“Tak apa, aku hanya bilang semoga kamu cepat sembuh” ucapnya lirih. “Kalau begitu aku pamit duluan, aku masih ada ulangan hari ini, jaga Naya baik-baik ya Ay” tambahnya.
“Oh iya, tentu. Thankyou ya Dave, aku gak tau deh apa jadinya tadi kalau gak ada kamu” ucap Naya sambil tertawa pelan.
“Ya sudah, sana cepat pergi! Untuk apa kamu masih disini?” usirku kasar.
“Nay! Kamu gak boleh gitu dong, seenggaknya kamu bilang makasih atau hati-hati atau apalah”
“Aku kan sudah bilang, aku gak akan berterima kasih padanya, kamu kenapa sih?” tanyaku
“ Kenapa? Kamu yang kenapa?! Kamu tiba-tiba jadi jutek, marah-marah dan kasar sama orang baru. Dia baru 1 hari disekolah kita dan kamu udah ngasi kesan yang buruk padanya! Ingat, siapa yang membantuku membawamu kesini” Ocehan Kayla yang panjang lebar seperti ibu-ibu pun akhirnya keluar.
Aku terdiam, aku sudah terbiasa mendengar ocehan panjang lebar yang selalu keluar dari mulut sahabatku itu. Kulihat lelaki itu masih berdiri diujung pintu, mungkin dia memperhatikan aku dan Kayla berdebat sedari tadi. Dia hanya tersenyum menatapku, senyum yang manis, tapi entah kenapa aku benci melihatnya dan enggan mengenalnya.
“Maaf ya Dave, mungkin Naya lagi pms makaknya sensi banget. Kamu hati-hati ya” ucap Kayla. Lagi-lagi Dave hanya tersenyum lalu menghilang dibalik pintu sana.


—–

Tok.tokk..tookkk…
“Yaampun ganggu banget deh. Iya tunggu!” bentakku dari dalam kamar. “Kenapa mbok?” tanyaku.
“Maaf non, tuan nanya hari ini non gak sekolah lagi?” ucap pembantuku
“Iya hari ini aku sekolah”
“Baik non, oh iya tadi mbok nemuin ini didepan pintu depan, kayaknya ini untuk non deh” ucapnya sambil memberiku setangkai mawar biru.
“Oh iya makasih mbok.” Kututup pintu kamarku, dengan heran kupandangi mawar biru itu. Aku tak merasa memiliki kekasih yang selalu memberi pasangannya bunga setiap hari seperti yang ada difilm-film. Kekasih pun aku tak punya. Dan tak sengaja kulihat lipatan kertas didalam bunga itu, isinya membuatku penasaran siapa pengirimnya.

Aku begitu rindu melihat wajahmu,
wajah yang pucat manis .
sudah terlalu lama, yaa terlalu lama.
Tak semudah ini untuk hadir kembali
“D”

“D? hmm siapa, aku tak merasa memiliki teman ataupun seseorang yang naksir padaku dengan nama yang berawalan….” Aku terdiam sejenak dan “astaga! Dave? Tapi kenapa dia? Maksutnya dia apa coba ngasi aku beginian? Sok romantis!” omelku dalam hati. Kulempar bunga itu kelantai dan kurampas handukku tuk segera meluncur ke kamar mandi. Waktuku telah tersita banyak hanya karena setangkai bunga dari orang yang baru kukenal dan tak ingin kukenal.
Di koridor-koridor sekolah ini kulangkahkan kakiku dengan gontai, rasanya malas tuk belajar setelah berhari-hari tidak sekolah. Dan tiba-tiba langkahku terhenti ketika kulihat seorang lelaki dihadapanku. Tanpa pikir panjang lagi, langsung kulemparkan tatapanku yang paling sinis padanya.
“Maksut kamu apa ngirim bunga kerumahku? Jangan mentang-mentang waktu itu kamu udah bantuin aku dan sekarang dengan seenaknya kamu deket-deketin aku!” ocehku dengan nada tinggi.
“Untuk apa aku ngirimin kamu bunga? Aku bahkan gak tau alamat rumahmu. Lagian wanita jutek dan suka marah-marah kayak kamu bukan tipeku, jadi kamu jangan berharap aku mengirimimu bunga.” Ucapnya dingin dan seraya pergi meninggalkanku yang masih dengan emosi yang semakin memuncak.
“Apa?! kamu gak usah ngelak lagi Dave!” kukejar dia dan kulemparkan lipatan kertas yang kutemukan di mawar biru tadi padanya.
“Kamu bisa lihatkan diujung bawah itu ada huruf D! siapa lagi kalau itu bukan nama kamu?!” Tambahku.
“aku yakin kamu pintar, tapi untuk hal begini saja aku rasa pikiranmu tak mampu tuk menggapainya. Nama yang berawalan D disini bukan hanya aku, ada ribuan bahkan jutaan yang memilikinya.” Ucapnya lalu pergi melanjutkan langkah-langkahnya. Aku diam terpaku, entah kenapa aku merasa begitu bodoh dihadapannya.
Baru selangkah kakiku menyentuh lantai kelas, tiba-tiba Kayla langsung memelukku.
“Naya! Aku kangen banget sama kamu! Maaf ya aku gak sempet lagi jenguk kamu, abis tugas sekolah numpuk banget.” Ujarnya sambil mempererat pelukannya.
“Duh Ay, aku gak bisa nafas nih, lepasin dong.” Rengekku sambil menepuk-nepuk punggungnya. Dilepasnya pelukan itu dan aku melihat ada sesuatu yang beda dengan wajahnya. Kuperhatikan lebih teliti, dan kulihat inci demi inci wajahnya, ya sekarang aku tau apa yang beda. Senyum itu, aku tak pernah melihatnya sebahagia ini.
“Ada apa? Apa yang terjadi selama aku gak ada? Aku tak pernah melihatmu seceria ini.” Tanyaku
“Banyak! Banyak banget yang terjadi dan aku yakin ini akan menjadi cerita yang panjang.” Jawabnya lalu menarik tanganku dan menuju bangkuku.
“Oke-oke sudah cukup pagi ini kamu meremukkan badanku karena pelukanmu dan sekarang meremas tanganku dengan tarikanmu. Ayo cepat cerita, ntar keburu bel masuk.” Ucapku
“Tapi kamu jangan kaget ya. Hmm yang pertama, aku rasa aku menyukai Dave sejak kejadian dirumah sakit itu dan aku sudah memiliki nomor ponselnya. Aku selalu menghabiskan malam bersamanya melalui telfon. Yaampun Nay! Aku bahagia banget. Hahahaa.” Aku bungkam seribu bahasa, mendengar semua itu membuat telingaku sakit, tak sabar rasanya memarahi dan menceramahi Kayla karena telah suka dengan orang seperti itu. Mungkin aku memang tak terlalu kenal dengannya, tapi aku yakin dia bukanlah orang yang baik untuk sahabatku.
“ Terus yang kedua, ternyata dia sekelas sama kita. Dan yang ketigaaaaa, dia duduk dibelakang bangku kita, hahahahaaa” tambahnya
“Apaaaaa?” sontak aku terkejut mendengar hal itu.
“ kenapa?” tanyanya. “ Enggak kenapa-kenapa kok.” Ujarku datar
Keesokan harinya, kuterima setangkai mawar biru lagi. Kurasa itu dari orang yang sama, karena kartu ucapannya pun tak berbeda dari yang kemarin . hal ini membuat kepalaku sakit karena terlalu banyak berpikir. Kuraih obat yang selama ini telah berjasa tuk menghilangkan rasa nyeri dikepalaku. Aku tak tau sudah sejak kapan aku mulai ketergantungan obat seperti ini, otakku terlalu susah tuk mengingatnya. Yah semenjak aku mengalami amnesia aku mencoba tuk memulai hidup baru dari awal, aku tidak ingat bagaimana masa-masa kecilku dulu, entah itu begitu menyenangkan ataupun menyedihkan. Apa aku pernah mencintai seseorang dan memiliki pasangan? Apa aku pernah berpelukan ataupun berciuman dengannya seperti yang terjadi pada drama-drama korea dan menghabiskan waktu bersama sepanjang hari? Aku tak ingat. Pernah sesekali aku menanyakan hal ini pada Bunda, tapi Bunda selalu bilang kalau aku belum waktunya mengetahui siapa itu lelaki.
Kubuka kartu ucapan yang sedari tadi hinggap ditanganku, sama seperti kemarin aku tak mengerti apa tujuan si pengirimnya.

Aku ingin bersamamu, bahagia denganmu kembali.
Sudah cukup aku hanya menjadi
seorang pengecut selama ini.

“V”

“Siapa lagi ini?! V? ahh!” kubuang kartu ucapan itu lalu bergegas menuju kesekolah. Tak kuhiraukan siapapun yang mengirimiku mawar itu, aku sudah lelah memikirkannya.
Hari ini benar-benar membuatku malas, kubiarkan guruku berbicara didepan. Pelajaran filsafat membuatku tambah mengantuk, filosofi bohong yang sangat membosankan. Tiba-tiba saja Kayla berbisik ditelingaku.
“Sekarang aku sudah resmi menjadi kekasihnya Dave, tadi malam dia menembakku. Tak kusangka dia memiliki perasaan yang sama terhadapku” ujarnya
“Aku gak setuju!” teriakku lantang.
“ Kamu gak setuju apa Naya? Kamu boleh menggantikan ibu disini kalau kamu tidak suka dengan ibu” ucap guruku yang langsung disambut dengan tawa dari teman-temanku sekelas.
“umm maaf bu, tadi saya hanya melatih vokal saya untuk drama besok.” Sahutku. Mukaku memerah menahan malu, kupukul mulutku berkali-kali karena sering frontal ketika berbicara. Sekilas kulihat Dave yang berada tepat dibelakangku, dia hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, yah dia tak seperti Kayla yang menertawakanku paling keras hingga meneteskan airmata.
“ Aku gak akan pernah ngerestuin hubunganmu dengannya, titik. Dia bukan orang yang baik Ay” Bisikku pada Kayla
“Aku yakin kamu ini sudah menjadi lesbian, mana mungkin ada wanita yang tidak menyukainya. Satu sekolahan ini mengejar-ngejarnya, betapa beruntungnya aku bisa mendapatkannya. Dia ganteng, baik, tidak sombong, kaya, pintar, perhatian, pokoknya sempurna deh. Aku gak akan ngelepasin dia hahaha!” jawabnya
“ kamu pikir dia malaikat yang bisa jadi sempurna?!” tambahku
“ terserah apa katamu.” Ucapnya
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku harus membiarkan mereka menjalin hubungan itu, aku tak ingin sahabatku pergi dariku karena keegoisanku sendiri. Kurasa aku harus terima bila nantinya hari-hariku bersama Kayla akan terisi juga oleh kehadiran Dave. Aku masih heran kenapa Kayla jatuh cinta dengan lelaki dingin dan cuek seperti itu walaupun kuakui dia memang seorang yang cukup tampan.
Keesokan harinya, tak kuterima setangkai mawar biru lagi. Mungkin pengirimnya sudah bosan karena tak pernah mendapat tanggapan dariku. Tapi ternyata itu salah, ketika aku baru memasuki kelas dan menghampiri bangkuku aku menemukan setangkai mawar biru lagi, yap lagi. Kubuka kartu ucapannya yang berisi:

Pernahkah terpikirkan olehmu kalau aku selalu
memperhatikanmu dari sudut mataku?
Percayalah, aku tak seperti yang kamu pikir

“Tak ada nama pengirim? Inisial atau apapun itu? Ini semakin menjadi sulit” gumamku dalam hati. Entah kenapa rasa pusingku kembali ada dan itu terasa sangat sakit. Kucari obatku didalam tas, ku obrak-abrik dalamnnya, kukeluarkan seluruh isi tasku, tapi tetap tak kutemukan juga. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi dan pandanganku pun menjadi gelap.
Kurasakan belaian tangan seseorang didahiku, kubuka mataku dan seperti biasa, Kayla senantiasa menemaniku saat aku pingsan, tentunya kali ini ada Dave juga.
“Minum ini” tawar Dave padaku
“Aku lagi gak haus” jawabku ketus
“Aku yakin kamu harus minum obat ini” ujarnya sambil memperlihatkan botol kapsul obatku
“Kenapa bisa dikamu?” tanyaku
“Kurasa kamu meninggalkannya kemarin.” Lalu ia pergi meninggalkanku berdua bersama Kayla diruang uks ini.
“Ay, kamu kok mau sih sama orang kayak dia? Lihat saja kelakuannya, dia begitu dingin” tanyaku
“Gak, itu gak seperti perkiraanmu, sebenarnya dia perhatian banget Nay. Dan aku harus tau sebenarnya apa yang terjadi? Tadi aku melihat mawar biru dibangkumu. Apa itu dari seorang lelaki? Dari kekasihmu? Kenapa kau tak pernah cerita padaku Nay? Ahh betapa manisnya lelaki yang romantis seperti itu, andai saja Dave juga memberiku bunga, hahaha!” pertanyaan bertubi-tubi itu membuatku enggan menjawabnya. Kubalikkan badanku dan membelakangi Kayla, tak terasa air mataku menetes, aku merasa masa remajaku tak ada artinya. Bukankah ini saatnya aku sudah tau bagaimana rasanya memiliki kekasih? Tapi pada nyatanya aku bahkan tak tau apa itu cinta.
“Ya sudah, kamu istirahat saja dulu, kamu boleh cerita ketika kamu sudah siap. Cepat sembuh Nay.” Ucapnya lalu pergi. Kuperhatikan langkah demi langkah Kayla yang setelah itu menghilang dikejauhan sana. Kata-kata Kayla membuatku penasaran dengan Dave.
Tak terasa sudah sebulan hubungan Kayla dan Dave berjalan. Sikapnya yang dingin membuatku diam-diam memperhatikannya, walaupun itu jarang kulakukan. Yap, aku begitu sibuk akhir-akhir ini. Untuk tidurpun aku hanya memiliki waktu 3 jam, mungkin ini memang resiko yang harus kujalani ketika duduk dibangku akhir sekolah menengah atas. Sepulang sekolah aku harus langsung pergi les, dan malamnya aku langsung pergi bekerja menjadi seorang pianis di Café Vegemfort. Hanya pekerjaan inilah yang dapat menghilangkan rasa lelahku. Sepulangnya pun aku masih harus mengerjakan tugas-tugas sekolah. Tak jarang aku bertemu Kayla dan Dave yang memilih café ini sebagai tempat kencannya. Iri? Tentu saja, aku hanya bisa memandang bagaimana mesranya orang yang berpasangan. Pernah sesekali mataku dan matanya saling bertemu, dia hanya tersenyum padaku. Dan dengan cepat aku langsung membuang pandanganku itu sejauh mungkin. Mungkin selama ini aku salah menilainya. Sekarang setiap kali aku melihatnya, aku merasakan hal yang beda, tapi aku tak tau itu apa.
Minggu ini adalah hari pertama aku memiliki free time dalam sebulan ini. Tak ku sia-siakan waktuku, dan seketika mataku tertuju pada tumpukan mawar yang sudah mulai layu. Kuraih mawar-mawar itu, aku tau dia selalu mengirimkanku mawar, tapi aku tidak punya cukup waktu tuk mempedulikannya. Kukumpulkan kartu-kartu ucapan yang terselit dalam mawar-mawar itu.

Apakah semua yang kulakukan membuatmu sakit?
Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu.
Aku hanya ingin memperbaiki semuanya

Aku lihat semakin hari kau semakin sibuk.
Jaga kesehatanmu baik-baik, aku sayang padamu.

Apa kau akan menerimaku lagi
jika seutuhnya kuhadirkan diriku untukmu?
Kuserahkan cintaku hanya padamu?

Sampai kapan ini akan berakhir?
Aku sudah tak tahan hanya berdiam diri dibelakangmu.
Tunggu aku sampai semua terbalaskan.

Seperti inikah rasanya cinta? Entah mengapa aku tersenyum lebar membaca semua ucapan-ucapan itu . Aku tak pernah merasa seperti ini, jantungku berdegup kencang, tak kusangka degupan jantungku mengalahkan setiap gerakan jarum jam yang berpindah dari satu detik kedetik lainnya. Tapi semakin lama degupan jantungku membuat dadaku sakit.
“Aaaahhhhhh Bundaaaaaaaa!” kuraih segelas air yang ada diatas meja belajarku, tapi apa daya aku tak mampu, yang ada malah aku menjatuhkan gelas tersebut. Bahkan aku tak mampu tuk menopang kakiku sendiri. “bundaaaa!” teriakku lagi. Dan setelah itu aku tak tau lagi apa yang terjadi.
Samar-samar kudengar suara ayah sedang berbicara dengan seseorang. Aku yakin aku dirumah sakit, karena tempat ini sudah sering kutempati. Bahkan menurutku ini sudah menjadi rumah keduaku. Tak sengaja aku mendengar pembicaraan ayah dengan orang yang menurutku itu adalah dokter, karena mereka membahas tentang penyakitku. Spontan akupun langsung menangis ketika mendengar bahwa jantungku bisa kapan saja berhenti berdetak. Tak kusangka hidupku akan menjadi seberat ini.
“Tuhan, apa aku tidak pantas mendapat hidup yang layak dengan raga dan jiwa yang sehat seperti yang lain? Aku sudah cukup iri dengan semua yang dialami remaja lainnya. ” Gumamku dalam hati. Air mata itu semakin deras, dan tiba-tiba ayah datang dan langsung memelukku.
“Ayah kumohon jangan beritahu Kayla atau siapapun itu tentang penyakitku ini. Biarlah mereka tau jika waktunya telah tiba.” Bisikku
“Kamu pasti akan sembuh nak. Ayah gak akan membiarkanmu begini.” Ucapnya lembut.
Ketika itu juga pupuslah harapanku tuk menjadi pianis terkenal. Apa yang dapat dilakukan dengan wanita penyakitan sepertiku ini? Kurasa tidak ada. Untuk membahagiakan Ayah dan Bundapun aku rasa takkan sanggup lagi.
Setelah berhari-hari mengurung diri, kuputuskan tuk pergi kesekolah, walaupun sebenarnya aku harus istirahat total dirumah selama sebulan. Kata dokter, hal ini agar penyakitku tak berkembang dengan cepat. Aku memutuskan berhenti mengikuti les, dan aku juga mengundurkan diri dari tempatku bekerja. Aku ingin fokus pada sekolahku saja.
Seperti dugaanku, baru saja aku dilihat oleh Kayla dan pelukan yang erat pun langsung mendarat di tubuhku. Kulihat Dave yang sedang duduk dibangkunya, dia tersenyum melihat kehadiranku. Yah, hubunganku dengan dia semakin hari semakin membaik. Dia memang baik dan tak seperti dugaanku selama ini. Pelukan Kayla ditubuhku semakin erat. Mungkin dia merindukanku, karena sejak aku masuk rumah sakit aku tak pernah mengabarinya sedikitpun. Kubiarkan pelukan itu, mungkin saja ini akan menjadi pelukan terakhirku bersama Kayla. Tak terasa air mataku pun mengalir, isakan tangiskupun mulai terdengar. Melihat ini membuat raut wajah Dave berubah seketika, senyum itu hilang dari wajahnya. Dan terakhir kulihat dia berlari menghampiriku, itu karena aku jatuh tak berdaya dalam pelukan Kayla.
Setelah aku sadar, aku langsung dihujani pertanyaan oleh Kayla. “Jadi ini yang kamu sembunyikan dari aku? Untuk apa? apa aku tidak boleh tau?! Aku sahabatmu Nay! Seandainya aku tau ini lebih cepat, aku gak akan biarin kamu mendam semuanya sendiri! Aku gak akan biarin hidup kamu menyendiri! Aku pikir kita sahabat! Tapi…..” “cukup Ay! Sudah cukup! Kamu keterlaluan. Kamu boleh marah, tapi bukan sekarang! Mungkin Naya ngelakuin ini karena ada alesan tertentu” potong Dave lalu mengajak Kayla keluar. Ruangan yang tadinya penuh dengan isakan Kayla kini telah menjadi sepi. Air mataku pun memenuhi pipiku, aku tak sanggup untuk menahannya agar tidak keluar. Yah penyakit Hypertrophic Cardiomyopathy ini telah mengubah hidupku.
Tak lama kemudian Dave dan Kayla kembali masuk keruangan rumah sakit ini. “Nay, maafin aku. Mungkin aku bukan sahabat yang baik untukmu, bahkan aku gak ada saat kamu seperti ini kemarin. Kamu cepet sembuh ya, biar cepet keluar dari rumah sakit. Terus kita jalan-jalan dan makan di café biasa. Aku akan beliin apapun yang kamu mau” ucapnya sambil tersenyum lebar. Kulihat Dave yang juga tersenyum menatapku.
“Seandainya kamu akan ngasi apapun yang aku mau, apa aku boleh meminta hati Dave untukku? Karena kurasa aku telah jatuh hati padanya. Aku tau kamu gak akan memberikannya padaku, lagi pula mana mungkin Dave mau dengan wanita sepertiku. Jaga dia untukku Ay.” Ucapku dalam hati. Akupun membalas senyum Kayla dan kami tertawa bersama-sama, menghabiskan hari dirumah sakit hingga langit malam menjelang.
3 hari telah berlalu, lagi-lagi kuterima mawar biru pada pagi hari ini, ucapannya begitu panjang. Seandainya dia adalah Dave

Aku tak tega melihatmu seperti ini,
apa semua ini karena kehadiranku dalam hidupmu lagi?
Aku benci harus begini, tapi melihatmu sakit
membuatku ingin mengambil penyakitmu itu
dan biarkan aku merasakannya.
kau akan tau siapa aku bila saatnya tiba.

“begitu romantis, Tuhan tolong persatukan aku dengannya. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta dan dicintai sebelum aku kembali padamu nantinya” kupeluk erat kartu ucapan itu dan akhirnya aku tertidur bersamanya.
“kkrrrriiiiiiiiingggggggg!!!!!!” derit ponselku membuatku terbangun, kulihat nama yang tertera di layar hpku ‘Kayla’, sontak aku langsung terkejut dan bangkit dari tidurku. Kurampas handuk lalu bergegas menuju kamar mandi. Aku lupa akan pergi bersama Kayla dan Dave sore ini. Dengan cepat langsung kugunakan pakaian yang ada dan kuhubungi Kayla. Tuuuttt..ttuuuttt..tuuttt “ayoo angkat dong Ay” gumamku, bergegas aku keluar dari kamarku dan ingin menyiapkan flat shoes kesukaanku. Tapi baru saja aku keluar kamar, kulihat Kayla dan Dave sudah duduk manis di sofa ruang tamuku.
“maaf tadi aku telat bangun, hehehe” ucapku sambil menunjukkan tanda piece pada mereka. Mereka hanya tertawa melihat tingkahku yang seperti itu.
Sepanjang jalan Kayla dan Dave selalu melakukan hal-hal yang romantis. Seandainya Dave milikku, tentu sekarang aku yang sedang dirangkulnya bukan Kayla. tak terasa saat makan malam aku lebih banyak melamun, dan tentu saja Kayla yang membuyarkan lamunanku itu.
“Kenapa Nay? Ada masalah?” tanyanya
“Nggak, gak ada apa-apa kok. Aku hanya iri melihat kalian berperilaku mesra didepanku, hahaha!” jawabku
“ Duh maaf ya Nay, aku gak bermaksud buat bikin kamu kayak gitu.” Tambahnya
“Lagi pula aku tak tau apa itu cinta”
“ terus bagaimana dengan seseorang yang selalu mengirimimu bunga?” tanyanya lagi
Dan tiba-tiba “uuhhukk..uhukk” Dave yang sedari tadi diam tiba-tiba batuk.
“makanya makan yang hati-hati sayang” ujar Kayla “Bukankah kamu menyukainya? Kemarin kamu bilang gitu ke aku” tambahnya
“Ya, mungkin aku memang menyukainya, tapi aku tak tau dia siapa” ujarku lirih. “aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai sebelum aku sudah tidak ada nantinya” tambahku.
“Jadi selama ini kau tidak sadar, aku mencintaimu Nay!” ucap Kayla lalu tertawa terbahak-bahak
“Ahh Dave lihat kekasihmu! Aku sampai ingin muntah mendengarnya.” Malam yang begitu indah. Aku berusaha menikmati setiap detik waktuku bersama mereka.
Seminggu kemudian, hari ini adalah hari ulang tahunku, tepat pada 25 November, tapi tak ada satupun kuterima ucapan dari Kayla, orang tuaku dan yang lainnya, terutama Dave. Mungkin mereka lupa, ya lupa. Itu alasan klasik yang cukup masuk akal untuk saat ini. Hingga malam menjelang tak ada yang special satupun yang kurasakan. Kuhabiskan malamku di pinggir kolam di halaman belakang rumah tuk menghibur diri. Tapi tiba-tiba “happy birthday Naya, happy birthday Naya, Happy birthday happy birthday happy birthday Naya! Yeeeee” kulihat ayah, bunda, Kayla dan Dave memberiku kejutan. Malam yang benar-benar mengejutkan.
“ayoo make a wish terus tiup lilinnya Nay, kuenya berat tau.” Ujar Kayla yang berpura-pura keberatan. Tak disangka, Dave langsung mendekati Naya dan meraih tangannya, “Nay, aku mencintaimu, menyayangimu seutuhnya. Aku ingin menjadi seseorang yang lebih dari sekedar teman, yang tidak hanya peduli padamu dari kejauhan.” Ucapnya lembut
“Tapi Kayla?” tanyaku
“Sudahlah, aku tak apa. asal kau jangan marah-marah terus ke Dave, kasiannya dianya ntar.” Sahutnya
Kuanggukan kepala tanda aku menerimanya, lalu dipeluknya diriku dan kecupan hangat langsung mendarat di keningku.”bunda, sekarang aku sudah tau rasanya dicintai, aku tau apa itu cinta, aku tau siapa itu lelaki, aku tau Bunda, aku tau.” Gumamku dalam hati. Tak terpikirkan apa yang terjadi selanjutnya dan tiba-tiba mereka semua mendorong dan menceburkanku kedalam kolam. Entah mereka sadar atau tidak, aku tidak bisa bernafas didalam kolam, dan itu membuat dadaku sakit kembali. Aku berusaha teriak minta tolong, tapi aku tidak bisa berkata apa-apa hanya suara tawa mereka yang kudengar, hingga pada akhirnya samar-samar seseorang pun ikut mencebur kedalam kolam.
Aku langsung dilarikan kerumah sakit. Aku koma berhari-hari. Aku tak tau apakah Kayla dan Dave selalu ada disampingku dan menemaniku. Dokter pun menegur ayahku, “bukankah saya sudah pernah bilang kebapak, kalau jantung Naya bisa saja berhenti kapan saja, dia tidak boleh terlalu merasa senang ataupun sedih, sekarang sudah tidak ada cara lain selain transplantasi jantung, silahkan bapak pikirkan dulu” ucapnya lalu pergi meninggalkan ayahku.
——-
Dua bulan kemudian, aku baru sadar. Kulihat ayah dan bunda duduk menjagaku. “Naya, kamu sudah bangun? Kaylaaaa! Naya sudah sadar.” Panggil ayahku
“Naya! Akhirnya.” Pelukan erat pun langsung mendarat pada tubuhku yang masih terkulai lemas. “jangan erat-erat dong.” Ujarku
“Dave mana? Kenapa dia tak ada disini? Apa yang terjadi?” tanyaku lagi.
“Ceritanya panjang, yang penting kamu harus keluar dari rumah sakit dulu baru aku akan ceritakan semuanya, percayalah dia selalu ada didekatmu.”
Hari ini adalah hari ke-10 setelah aku keluar dari rumah sakit. Tak pernah kutemui Dave dan akupun tak tau dimana dia. Tapi hari ini Kayla sudah berjanji akan menceritakan semua yang terjadi selama aku dirumah sakit dan akan mengajakku tuk bertemu dengan Dave.
“Nay udah siap?” tiba-tiba Kayla sudah muncul dikamarku
“ tentu saja, aku sudah siap dari tadi” jawabku. “tunggu aku sayang, aku sangat merindukanmu.” Tambahku dalam hati.
Mobil Kayla pun terhenti didepan sebuah pemakaman umum. “Ay, kenapa berhenti disini?” tanyaku.
“Sudah, kamu ikut saja, jangan bawel Nay” sahut Kayla. kuikuti langkah-langkah Kayla yang berjalan disisi-sisi pemakaman.
“Dave, aku bawa Naya, dia sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu Dave? Kamu baik-baik saja kan?” ucap Kayla berbicara dengan salah satu kuburan yang ada dipemakaman tersebut. Mendengar Kayla berbicara membuatku tak bisa menahan air mataku lagi, sontak kuteriak memanggil nama Dave.
“Daveeeee!!!! Kenapa Dave bisa begini Ay?! Kenapa?! Daavveeeee!!!!” teriakku lantang. Kayla pun langsung mendekap tubuhku, dielusnya rambutku, “biarkan dia tenang disana Naya. Aku tau ini susah. Tapi ikhlaskanlah. Dia pasti sedih melihatmu menangis” ucap Kayla. Ibunya Dave menitipkan ini padaku, dan kurasa ini untukmu Nay.” Tambahnya. Langsung kubuka kotak yang Kayla berikan padaku, kuraih sepucuk kertas yang ada didalamnya.

Tak kusangka memang Dave yang selama ini memberiku mawar, Padanyalah aku merasakan cinta itu kembali, aku bahagia. Aku tak peduli tentang apa yang telah dilakukannya dulu padaku. Kulipat kertas itu dan kutemukan mawar biru yang telah sangat layu didalam kotak itu, masih terlihat jelas darah yang telah mengering dikartu ucapan yang biasa kutemukan dalam mawar biru selama ini.
“Malam itu Dave ingin menjengukmu dan ingin memberikan mawar itu padamu,dan dia ingin menceritakan semua kejadian yang terjadi. Tapi mungkin dia terlalu senang hingga tak dapat mengontrol sepeda motornya saat dijalan. Dia menabrak sebuah truk yang melintas didepannya. Dan dia pergi untuk selamanya saat itu juga.Dan itu adalah mawar terakhir yang akan dia berikan padamu sebelum dia kecelakaan” ucap Kayla. Isakan tangisku semakin terdengar jelas ketika melihat begitu banyak yang telah dia lakukan untukku.
Tiba-tiba Kayla meraih telapak tanganku lalu ditaruhnya ditengah dadaku, “rasakan, ini adalah detakan jantung Dave, dia tidak pergi, dia selalu ada disini, didalam tubuhmu. Tak ada lagi yang dapat memisahkanmu dengannya. jangan biarkan dia merasa sedih karena melihatmu menangis, biarkan dia tenang disana.” Ucapnya, tak kusangka Kayla pun ikut menitikkan air matanya. Dave telah memeberiku kesempatan hidup yang kedua menggunakan jantung yang dia donorkan padaku. Kupeluk Kayla dengan erat, lalu samar-samar kulihat Dave tersenyum dikejauhan sana, senyum yang pernah membuatku terpesona, kubalas senyumnya dan dengan berbisik kukatakan “terima kasih Dave”. Yahh, dia cinta yang selama ini ada didekatku tanpa kusadari, tapi ketika telah kugapai dirinya, aku harus melepaskannya. Lalu kemudian dia hilang ditelan kabut senja untuk selamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s