BECOMEAS REAL

BECOMEAS REAL

Dua puluh tigaaaaaaa!!!
Yaa hari ini tanggal 23, dimana hari ini sang idola mengadakan konser di Indonesia. Sebagai penggemar, ya mungkin bisa dibilang fanatic. Albumnya, bukunya, parfumenya, atau apa lagi? Semua pasti aku punya, tapi entah lah kenapa disaat aku ingin bertemu dengan dia, aku gak bisa ketemu, ahhh itu rasanya hmm… sedih banget pastinya. Gak bisa aku bayangin deh gimana gembiranya orang-orang yang bisa ketemu sama sang idola, mungkin sampai nangis-nangis, iya gak sih?.
Huh gak semangat banget deh rasanya mau sekolah hari ini, sudah pasti karna hari ini tanggal 23. Sahabatku semua juga gak ada yang seru hari ini. Bukannya ngehibur sahabatnya yang satu ini lagi sedih malah makin manas-manasin aku. Kalau aku pulang ke rumah pastinya aku makin bete dibuat, bukan karna apa-apa sih cuma aku orangnya gak betahan diem dirumah.
Akhirnya aku putusin untuk pergi, entah kemana yang penting aku gak dirumah. Belum selesai ngabisin es cream yang baruku beli, tiba-tiba dari kejauhan mataku tertuju pada sosok laki-laki dan perempuan, dengan asiknya berpegangan tangan sambil terus saling menatap pasangan nya. Semakin lama aku perhatikan dua orang itu, semakin cepat juga aku menyadari semuanya. Aku mengenalnya!!! Mengenali dua orang itu tanpa ragu.
Gilaaa…!! itu Neerja. Lalu orang disamping Neerja, Angel, anak kepala sekolah dimana tempat aku sekolah. Seberernya bukan itu yang buat aku kaget banget kenapa Neerja bisa jalan bareng Angel, melainkan Angel sahabatku, bukan sahabat lagi, aku sudah anggap dia sebagai saudara. Betapa kecewanya ngeliat dia seorang sahabatku, jalan sama orang yang aku suka. Lalu apa gunanya aku cerita sama Angel soal perasaanku sama Neerja, apa gunanya dia coba ngenasehatin aku dan ngasi aku saran buat bisa deketin Neerja? Ahh sahabat palsu.

***
“Selamat pagi Aura cantik.” sapa Angel dengan ramahya. Aku hanya tersenyum kehadapannya. Tanpa rasa bersalah Angel masih berani menyapaku seperti itu. Apa dia masih ingin berpura-pura lagi dihadapan aku. Oke boleh aja dia bersandiwara lagi, tapi jangan harap aku akan bersikap seperti biasanya kepada dia.
Seperti biasa, saat jam istirahat aku selalu kumpul bareng sahabat-sahabat aku. Melly, Melly Spirkle anaknya cantik, mancung, mirip bule gitu, karna emang ayah Melly berasal dari Amerika. Sayangnya ayah Melly sudah meninggal 2 minggu yang lalu. Hilda, Hilda Stefani orangnya baik banget, setiap aku butuh dia, pasti dia ada buat aku. Semoga aja dia gak palsu kaya sahabat gue yang terakhir ini, Angel, Angel Collins. Rasanya ingin aku bunuh itu orang kalau inget-inget kejadian kemarin.
“Hai Aura, mau pulang? Tumben sendiri, mana sahabat-sahabatmu?.” tiba-tiba saja Bayu menyapaku yang sedang terbengong di parkiran sekolah karna lagi-lagi melihat Neerja pulang bareng Angel. “Ehh Bayu, iya nih aku mau pulang, mungkin yang lain udah pulang duluan. Mau bareng?.” “Iya boleh.” Dengan spontan dan terdengat sangat gembira Bayu menerima tawaranku. “Yaudah yuk cepat masuk.” Bayu langsung masuk ke dalam mobilku tanpa berbicara apa-apa lagi.
“ohh iya, kok tumben kamu ngajak aku bareng? Biasanya ngobrol sebentar bareng aku aja kamu udah keliatan gak betah banget, bahkan langsung mencari alasan untuk ngehindarin aku.” Bayu pun memulai pembicaraan terlebih dahulu. “Yaa kepengin aja pulang bareng kamu.” Wajah Bayu langsung merah karna malu. “Mimpi apa aku semalam sampai-sampai hari ini seorang Aura Palvin pingin bulang bareng aku?.” “haa? Apa kamu bilang?.” “Oh bukan apa-apa, lupain aja.”
Setelah setengah perjalanan tanpa saling bercakap dan merasa sedikit bosan. Akhirnya aku yang harus memulai pembicaraan. “Yu, kamu mau dengerin cerita aku gak.?” Apa-apaan, kenapa tiba-tiba saja aku malah memintaBayu buat ngedengerin cerita aku. “Dengan senang hati, apa sih yang enggak buat kamu.” “Yaudah, kalo kamu memang bener-bener mau ngedengerin cerita aku kita berhenti sebentar di taman dekat mall ya.” “Iya Aura, terserah kamu saja.” “Tapi ingat, jangan beritahu siapapun.” “Sebegitu rahasianya kah?.” “Udah deh jangan bawel ikutin aja kata aku.”

***

Lagi-lagi seperti ini. Seperti tak dianggap dan tak berharga. Mungkin dimatanya aku ini wanita yang bodoh yang pernah dia temui. Wanita yang masih tetap mencintainya, meskipun berulang kali dia sakiti, dan tetap memaafkan walaupun aku tau maaf ini sudah tidak pantas lagi aku berikan untuknya. Harus bagaimana aku mengungkapkannya, agar kau mengerti perasaan ini. Lelah aku dengan semua sikapnya.
Aku mulai berjalan disekitar taman dekat sekolah. Sambil memanjakan mataku yang sedari tadi berusaha membuatku untuk meneteskan air matanya. Masih terus berjalan, mencari tempat yang bisa untuk aku jadikan tumpuan melepas lelah. Akhirnya, tak ingin menjadi yang paling menderita di taman ini. Aku memutuskan pergi dan mencari tempat yang jauh lebih indah di luar sana.
Dari kejauhan sana, terlihat Bayu sedang berjalan dengan santainya seorang diri. Perlahan-lahan, kakkiku mendekatinya. Dan saat ini, aku sudah tepat berada di sampingnya. “Aura…” Ucap Bayu yang tampaknya keget melihatku tiba-tiba sudah berada di sampingnya. “Hai Bayu, apa kabar? Senang rasanya kita bisa bertemu lagi.” Sambil tersenyum manis ke arah Bayu. “Lihat saja, seperti ini keadaanku sekarang, masih seperti dulu kok.” Dengan membalas senyumanku, dia menjawab pertanyaanku.
Kami berbincang-bincang dan tertawa bersama, sambil mencoba menghilangkan rasa sedihku yang dari tadi tak kunjung hilang. Disepanjang perjalan terlihat anak-anak kecil yang sedang asik bermain. Aku dan Bayu pun ikut bergabung bersama mereka, bernyanyi bersama, menari bersama, dan tertawa bersama. Semua ini membuatku merasa senang. Tidak ada rasa sedih sedikitpun yang kurasa. Semua rasa sedihku yang tadinya menghantuiku kini hilang begitu saja. Menghabiskan waktu seepanjang hari bersama Bayu membuatku merasa nyaman. Dan kali ini hatiku sudah cukup tenang

***

  Beberapa hari ini aku mulai menghilangkan fikiran untuk mengakhiri hidup, saat ini yang aku fikirkan, bagaimana caranya aku dapat bertemu lagi dengan Mickey. Karena aku merasa Mickey masih hidup. Sore itu dengan kaos dan jeans hitam kesayangan, aku berjalan-jalan menghirup udara segar di dekat taman . Aku hanya ingin menenangkan fikiran dari bayang-bayang Mickey yang dapat mengubah hariku yang sedih menjadi menyenangkan.
Hari ini, tepat hari ulang tahun Mickey, aku ingin merayakan ulang tahun  Mickey. Hari ini aku mempersiapkan segala sesuatu sendiri. Kugantungkan lampion-lampion kecil menghiasi pohon. Dan kutaburkan butiran-butiran kelopak bunga mawar di sekitar tempat duduk di bawah pohon. Beberapa makanan dan minuman telah berada di atas meja.
“wahhh… keren banget.” Ucap Taylor yang tiba-tiba saja datang dan langsung duduk di bangku yang sudah kusiapkan untuk nanti. Aku menghidupakn lilin-lilin yang berada di atas kue tart dan aku mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Aku bahagia bisa merayakan ulang tahun Mickey. Walaupun Hari ini Mickey sudah tidak ada di kehidupanku, dan dikehidupan siapapun. Taylor terdiam dan tetap melihatku yang sedang bernyanyi ulang tahun untuk Mickey. Tetapi di akhir lagu, aku terdiam dan mulai meneteskan air mata. Aku teringat kenangaanku bersama Mickey. Akupun bangkit dari teptaku duduk dan langsung berlari menuju ke kamar.

***

Di taman kota, aku dan kamu sering menghabiskan waktu bersama. Di taman ini kamu menceritakanku tentang penyakit yang kamu derita, dan mengatakan padaku untuk menjaga diri baik-baik saat kamu sudah tidak bisa menjaga dan menemaniku lagi. Air mataku menetes dan menangis di pundakmu sambil manganmu mengekus kepalaku dan mencoba untuk menenangkanku.
Kamu mengajakku ke sebuah pantai. Kamu mengatakan padaku jika aku rindu padamu, aku bisa pergi ke tempat ini untuk melepaskan rinduku. Dipantai itu kita membuat kenangan yang indah, yang tidak pernah akan bisa aku lupakan dan aku harap aku bisa melepaskan rinduku di pantai itu seperti yang kamu bilang.
Aku tidak habis fikir apa yang dapat aku lakukan. Aku sudah kehilangan dirimu yang selalu menamamiku. Aku berubah menjadi anak pemurung semenjak kamu pergi meninggalkan aku utuk selamanya. Termenung, dan menangis, itu selalu yang aku lakukan jika teringat dirimu.

***
Sudah puas aku menangis di kamar dan membayangkan kenanganku bersamamu, disaat kau masih bersamaku dulu, akupun keluar kamar untuk memastikan apakah Taylor masih ada dirumahku atau tidak.
“sudah selesai menangisnya?.” Tanya Taylor yang sedang makan seenaknya makanan yang ada di dalam kulkasku. “ngapain kamu masih disini?.” Sambil cemberut ke arah Taylor. “aku rindu saat-saat aku bersama-sama Mickey.” Sambungku lagi. “Hmm… mau kepantai?.” Dengan spontan Taylor mengajakku untuk pergi ke pantai. “ha? Tentu saja. Tapi tunggu, dari mana kamu tau jika aku merindukan Mickey aku selalu pergi ke pantai?.” “Sudahlah jangan banyak omong. Ayoo.” Taylor langsung menarikku untuk segera pergi.
Sambil berjalan di pinggir pantai, aku mencoba berfikir kembali. Sampai kapan aku harus seperti ini. Selalu bersedih dan rasanya tidak ada semangat hidup lagi disaat aku mengingat mu. Aku terus berjalan dan tetap berfikir seperti itu. Aku harap sutu saat nanti, aku dapat menemukan seseoarang yang sepertimu, yang dapat membuatku tertawa kapan saja.
Aku melihat di sekelilingku, kini pantai ini sudah terlihat sangat sepi. Ku coba untuk berteriak sekencang mungkin dipantai ini. Aku harap ini bisa lebih menenangkan fikiranku dan hatiku. Selama ini aku hanya menangis seorang diri dikamar kecilku, dan itu tidak membuatku merasa benar-benar lebih baik.

***

Aku menutup novel itu. Novel itu membuatku merasa takut. Takut untuk kehilangan orang yang ku sayang. Apa aku akan seperti orang yang ada di novel itu jika aku kehilangan Neerja?. Tapi kufikir Neerja bukan orang yang benar-benar aku sayang. Atau mungkin Bayu?. Ya bayu selalu membuatku tertawa bahagia. Disaat aku membutuhkannya dia selalu ada. sedangkan Neerja tidak pernah membuatku bahagia, ia hanya selalu membuatku menangis karna kelakuannya.
Semua itu membuatku sadar. Bayu adalah orang yang seyang padaku, buka Nerja. Mulai dari sekarang aku harus menghentikan semua kelakuan bodohku. Selalu tetap mempertahankan seseorang yag tidak pernah perduli ataupun sayang kepadaku.

***

“Melly, aku dimana? Mana novel yang kubaca semalam, aku belum selesai membacanya.” “Aura, kau sudah sadar?.” Sahut Melly. “Sudah sadar?.” Dengan lemasnya aku menanyakan pertanyaan itu. “Kamu di rumah sakit Aura, apa kamu tidak sadar dengan kejadian tiga hari yang lalu?.” “Kejadian apa? Aku tidak ingat apa-apa. Yang kuingat semalaam aku hanya membaca novel.” “Kamu mengalami kecelakaan Aura, sewaktu kamu mengantar Bayu pulang. Kamu tidak sadarkan diri selama tiga hari ini.”
Apa benar yang dikatakan Melly. Tidak aku tidak percaya. “Bayu? Dimana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya.” Melly tidak menjawab apa-apa. Melly hanya terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Aura. “Melly kenapa kamu diam saja? Dimana Bayu? Dia tidak apa-apa kan seperti aku?.”  “Aura, Bayu sudah meninggal saat kecelakaan, dia mengalami pendarahan yang sangat banyak. Bayu terlambat dibawa ke rumah sakit, dan Bayu tidak bisa di selamatkan.”
Setelah mendengar kenyataan itu, air mataku langsung mengalir di pipiku. Mengapa semua ini harus terjadi kepdaku?. Mengapa disaat aku telah menyadari orang yang benar-benar aku sayang, dia sudah tidak ada lagi. Apa kehidupanku akan sama dengan cerita yang ada di novel yang kubaca di dalam tidurku selama aku tidak sadarkan diri?. Aku belum sempat balik menyayanginya dan membuatnya bahagia. Aku harap di kehidupan lain aku dapat bertemu dengan dia lagi.
Aku menyayangimu Bayu Geryson.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s