The Autumn Lovers

PicsArt_1416722602888

Oleh :

Nama : Dhea Julia Savitri

Kelas : XI MIA 2

Absen : 9

 

Musim Gugur…. Musim gugur adalah satu dari keempat musim yang ada didunia. Orang-orang banyak tidak menyukai musim gugur karena kebanyakkan dari mereka menganggap bahwa musim gugur itu adalah musim yang menyedihkan. Sejujurnya bagiku musim gugur adalah musim yang indah. Saat musim gugur kita dapat melihat perubahan warna pada daun-daun pohon Maple serta indahnya daun-daun Maple yang berguguran. Seseorang pernah berkata bahwa musim gugur itu adalah musim yang sangat indah dan aku mengakui perkataanya.

Musim gugur mungkin adalah musim yang sedikit dingin, tetapi kau akan merasakan kehangatan jika kamu bisa memandang sebagaimana musim gugur itu sesungguhnya. Di Indonesia memang tidak memiliki musim tersebut, tetapi dulu saat aku pergi ke negeri seberang aku pernah melihat bagaimana musim gugur itu dan aku pun langsung jatuh cinta dengan musim gugur. Dan disaat musim gugur ini juga aku bisa mengetahui apa itu cinta sejati yang sebenarnya.

-Flashback-

Namaku adalah Desta Khurniawan Saputra. Aku adalah pemuda asal Jogjakarta, saat ini aku telah memiliki pekerjaan yaitu sebagai seorang Photographers disebuah Penerbitan Di Jogja.

Aku sangat mencintai pekerjaanku ini, sedari kecil aku selalu bermimpi untuk menjadi seorang Photograhers. Saat kecil dulu aku sangat hobi untuk mengabadikan keadaan alam yang ada disekitarku dengan kamera pocket yang ayahku berikan kepadaku disaat ulang tahunku yang keenam tahun dan sejak saat itu aku sangat suka untuk memotret segala hal yang ada disekitarku, seperti saat kucingku bermain-main di taman rumah kami, seperti saat ibuku memasak, dan juga banyak hal lainnya.

Saat ini aku sedang berkeliling di Malioboro untuk memotret bagaimana kegiatan masyarakat yang ada di daerah ini.

“Hai Desta” Tegur seseorang mengagetkanku.

“Astaga kamu mengagetkanku Riana” Ujarku kesal dan Riana pun hanya tertawa ketika melihatku kesal seperti ini.

Deswita Patriana adalah sahabat sedari kecilku yang selalu setia menguntitku kemana pun dan karena ia jugalah hingga saat ini aku tidak pernah berpacaran.

“Desta Desta hari ini aku ikut keliling sama kamu lagi ya?” Rengek Riana.

“Nggak ah nanti kamu ngeganggu aku lagi” Jawabku sambil tetap memotret jalanan di Malioboro.

“Ayolah, aku janji deh aku nggak bakalan menggangu kamu, kalo aku ngeganggu aku entar bakalan traktir kamu sepuasnya di kafe langganan kita.” Ujarknya meyakiniku.

“Serius ya? Awas aja kalo kamu nggak nepatin entar aku nggak mau nemenin kamu kalau kamu mau kemana-mana” Ancamku.

“Emangnya aku pernah ngelanggar janjiku ke kamu?” Tanyanya.

“Hmm nggak pernah sih hehehe” Jawabku sambil cengengesan.

Riana sebenarnya adalah cewek yang cantik, ramah, menyenangkan dan lucu. Banyak orang yang tertarik dengannya, tapi aku nggak tau mengapa ia tidak pernah tertarik untuk menerima salah satu dari ungkapan perasaan mereka kepadanya, aku sudah sering kali bertanya ke dia mengapa ia tidak pernah mau menerima mereka dan ia hanya menjawab bahwa hatinya telah diambil oleh orang lain dan saat aku bertanya lagi kepadanya siapa orang itu dianya hanya diam saja.

“Desta hari ini rencananya setelah dari Malioboro kamu mau kemana?” Tanyanya.

“Entahlah, aku juga masih belum menentukannya.” Jawabku.

“Hmm bagaimana kalau kita pergi ke Alun-Alun Selatan?” Tawarnya

“Tapi tidakkah saat malam hari disana keadaannya lebih menyenangkan Riana?” Tanyaku.

“Hmm iya juga sih” ia diam sejenak.

“Ya sudah kalau gitu nanti malam kita pergi lagi. Oke Desta?” Bujuknya.

“Ya terserah kamu dah, aku ikut aja” Sahutku.

Riana pun tersenyum. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami yang sempat tertunda. Kami berkeliling selama seharian di Malioboro, sejenak kami berhenti untuk tertawa jika melihat sesuatu yang konyol.

Malam hari pun tiba, setelah mandi dan bersiap-siap aku pun menjemput Riana dirumahnya dan kemudian kami pun pergi ke Alun-alun selatan untuk melihat suasana malam hari disana.

“Desta aku pingin makan wedang ronde dong” Ajak Riana.

“Iya, tapi aku juga pengen nyoba makanan lain yang ada disini. Oke” Jawabku.

“OK. Kalau perlu kita wisata kuliner aja sekalian hehehe” Canda Riana.

“Ya nggak gitu jugalah Riana.” Ujarku speechless, Riana pun hanya bisa cengengesan gak jelas.

Setelah puas menikmati kuliner yang ada disekitar Alun-alun ini kami pun memutuskan untuk bersantai di tamannya.

“Desta Desta foto aku dong” Pinta Riana sambil bergaya.

“Nggak ah, aku udah bosan ngefoto kamu terus dari kita masih kecil dulu.” Jawabku seraya mengalihkan pandanganku kearah jalanan.

“Tapi kan aku udah berbeda sekarang” Jawabnya sambil merengek kepadaku.

“Nggak tuh, kamu sama aja. Masih tetap jelek, menyebalkan, suka ngeikutin aku, suka ngeganggu aku, dan sering banget nimbrung pas aku lagi PDKT sama cewek.” Jawabku panjang lebar.

“Tapi…” Sebelum Riana melanjutkan kalimatnya aku sudah memotongnya dengan mengatakan bahwa aku ingin pulang.

Setelah aku mengantarkan Riana pulang, aku pun langsung pulang kerumah. Saat sampai dirumah aku langsung masuk ke kamarku karena kebetulan saat itu dirumahku sedang tidak ada siapapun. Ayah dan ibuku sedang pergi berlibur ke Lombok, sedangkan Abangku belum pulang dari tempat kerjanya.

Ayah dan ibuku pergi berlibur karena ayahku mendapatkan bonus dari kantornya yaitu mendapatkan tiket hotel 3 hari 2 malam disalah satu hotel yang ada di Lombok. Ayahku bekerja disebuah Perusahaan Perjalanan yang ada di Jogjakarta, Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga, sedangkan Abangku, bang Dimas bekerja sebagai Manager di Bank Mandiri Jogjakarta.

Keesokkan paginya aku pun bersiap-siap untuk pergi ke kantorku.

“ Berangkat dulu ya bang.” Ujarku kepada abangku.

“Yok Des” Jawab abangku tanpa melihatku.

Setelah sampai dikantor aku berpapasan dengan bos-ku.

“Desta bagaimana dengan tugas foto yang sudah saya berikan kepadamu kemarin?” Tanya bos-ku

“Saya sedang dalam proses mengerjakannya bos.”

“Baiklah, jika kamu sudah selesai langsung serahkan keruangan saya ya Desta” Ujar bosku.

“Baik bos” Jawabku.

Setelah mengatakan hal itu bos-ku pun melanjutkan perjalanannya dan aku pun juga melanjutkan perjalananku. Pada saat jam makan siang aku ditelpon dengan Riana, dia mengajakku untuk makan di kafe langganan kami yaitu ‘Peacefully Café’.

Tak lama kemudian aku sampai di Peacefully Café, sesuai dengan namanya keadaan tempat disini sangat nyaman dan juga damai sehingga kalian sangat betah untuk berlama-lama di kafe ini.

“Alien! Maaf ya bikin kamu nunggu lama” Ucapnya dengan beserta senyum polos, padahal sebelumnya dia memanggilku dengan panggilan yang biasa ia suka gunakan sejak kami masih kecil.

“Riana bisa gak sih kamu berhenti manggil aku ‘Alien’?” Tanyaku.

“Nggak mau, panggilan itu cocok buat kamu” Sahutnya keukeh seraya menjulurkan lidahnya kearahku.

Aku pun hanya memutar mataku malas.

“Ohya Des, hari ini aku gak kesini sendiri. Kebetulan hari ini ada pegawai baru di kantorku dan dia mendapat bagian di divisiku, karena ia belum akrab dengan yang lain dan juga masih belum mengenal daerah sini jadinya aku ajak deh dia makan bareng. Sekarang dia masih di toilet, tapi nggak apa-apa kan Des kalau aku mengajaknya?” Tanyanya kepadaku.

“Ya nggak apa, yang penting dia orangnya menyenangkan.” Sahutku.

“Nah itu dia orangnya” Ucap Riana seraya menunjuk seorang cewek berambut panjang dan agak bergelombang, tinggi, dan juga ia terlihat elegan.

“Maaf ya membuat kalian menunggu lama” Ucapnya setelah itu dia duduk di bangku yang ada diseberangku dan tersenyum kepadaku, aku pun terpesona dengan senyum itu. Itu sungguh senyum terindah yang pernah aku lihat.

“Des…Desta…DESTA!!!” Teriak seseorang yang membuatku tersadar dari lamunanku.

“Ah ya kenapa?” Jawabku linglung.

“Ishh kamu ini daritadi aku ajak ngomong juga. Kenalin ini Kamellia. Dia asli Bandung dan dipindah tugaskan kesini.”

“Kamellia” Ucap Kamellia kepadaku dan ia juga menjabat tanganku

“Desta, salam kenal ya Kamellia.” Balasku.

Setelah itu kami pun memesan makanan yang akan kami makan dan seperti biasa aku pasti memesan Spaghetti Bolognese dengan minumnya Bubble Tea.

“Kamel Spaghetti disini enak loh, kamu coba deh” Tawarku.

“Gak tuh enakkan juga Lagsana disini” Sahut Riana

“Spaghetti”

“Lagsana”

“SPAGHETTI”

“LAGSANA Desta”

“Udah udah, kok kalian malah jadi berantem deh. Tapi maaf ya kebetulan aku kurang suka kedua makanan itu jadinya aku entar cicip sedikit di punya kalian aja deh” Ujar Kamellia menengahi kami, sedangkan aku dengan Riana masih berpandangan sengit sampai makanan pesanan kami tiba di meja kami dan kami pun menyantapnya.

10 bulan berlalu sejak perkenalan pertamaku dengan Kamellia, semenjak itu kami berdua semakin dekat dan akhirnya tepat pada hari Valentine aku menyatakan perasaanku kepadanya dan ternyata ia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Sejak saat itu kami pun menjadi sepasang kekasih. Saat ini aku telah berhubungan dengan Kamellia selama kurang lebih 5 bulan, tetapi aku tidak menyadari bahwa aku telah menyakiti hati seseorang karena hubunganku dengan Kamellia.

“Wah wah kalian pergi makan kesini kok nggak ngajak-ngajak aku sih?” Tanya Riana kesal ketika melihat aku dan Kamellia makan berdua di kafe langganan aku dan Riana.

“Aku kira kamu sudah bosan makan disini, soalnya aku jarang ngelihat kamu makan siang disini lagi” Ujarku cuek.

“Nggak tuh. Kebetulan kemarin-kemarin aku lagi sibuk sama tugas kantor.” Sahutnya.

“Sudah. Kalian ini setiap bertemu selalu saja berdebat. Aku pusing ngedengerinnya.” Ucap Kamellia lagi-lagi menengahi kami.

“hahaha namanya juga musuh bebuyutan mell” Sahut Riana. Tak lama setelah itu pesanan kami datang, kami pun menyantapnya.

Keesokkan paginya aku kedatangan Riana dirumahku.

“Tumbenan kamu main kesini lagi.” Ucapku.

“Entahlah aku hanya kangen berduaan sama kamu Desta” Sahutnya seraya tersenyum kepadaku.

“Ah kalau aku sih bosan sama kamu terus-menerus” Ucapku lagi.

“Hahaha kamu kok gitu banget sih sama aku.” Jawab Riana.

“Des jangan lupa datang ya ke acara ulang tahunku lusa” Beritahu Riana.

“Hmm ya aku sudah pastilah datang.” Ucapku acuh.

“Baiklah, kalo gitu aku pulang dulu ya” Pamitnya seraya tersenyum kearahku.

“Iya iya” Jawabku acuh untuk kesekian kalinya.

Setelah Riana pergi aku pun kembali sibuk dengan kameraku didalam kamarku. Tak lama setelah itu Kamellia menghubungiku dan ia memintaku untuk menemani mencari kado untuk Riana.

Setelah aku menjemput Kamellia kami pun memutuskan untuk ke Mall Ambarukmo Plaza atau yang biasa disebut AmPlaz.

“Desta mana lebih cocok untuk Riana. Model yang ini apa yang ini?” Tanya Kamellia sambil menunjukkan 2 model dress kepadaku.

“Riana nggak cocok pake model begitu. Mending kamu beliin dia mini dress warna biru sapphire yang modelnya simple” Ucapku dengan lancar.

“Ohh gitu ya. Yaudah deh ayo kita coba cari lagi” ucap Kamellia seraya menarikku untuk mencari dress yang aku maksud.

Kami menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 jam berkeliling untuk mencari dress seperti yang aku katakan tadi ke Kamellia dan akhirnya kami mendapatkan satu yang memang terlihat simple, elegan, dan juga unik. Setelah itu kami memutuskan untuk makan siang di food court yang ada di lantai 3 di Mall ini.

“Kamell, kamu tu ya makannya wajib deh belepotan gini” Omelku sambil mengelap pinggir bibir Kamellia yang terkena saus.

“Hehehe maaf Des, aku emang dari dulu begini” Bantahnya.

“Makanya kamu harus mencontoh Riana yang kalau makan selalu bersih dan rapi” Ucapku tanpa memperhatikan ekspresi dari Kamellia.

“Hmm ya maaf ya” Gumam Kamellia pelan.

“Ya udah kamu lanjut aja makannya” Ucapku sambil melanjutkan menghabisi makananku yang sempat tertunda.

Sehabis makan aku pun mengantarkan Kamellia pulang.

“Desta nanti kalau kamu sudah sampai dirumah hubungi aku ya” Ucapnya.

“Iya Mell” Jawabku.

“Byee” Ucapnya lagi.

Setelah itu aku pulang, tetapi ketika hampir sampai dirumahku aku tidak sengaja menabrak seorang cewek.

“Maaf mbak saya tidak melihat mbak menyebrang.” Sesalku.

“Iya nggak apa-apa…. Loh Desta?” Kata Cewek itu kaget.

“Loh Riana? Kamu emangnya mau kemana sampai nyebrang nggak ngelihat-lihat” Ucapku sambil membantunya berdiri.

“Aku mau kerumahmu dan tadi saat menyebrang aku sebenarnya sedang melamun sehingga tidak melihat kalau ada mobil yang sedang melaju” Jawabnya.

“Untung saja kamu nggak terluka parah dan untungnya juga tadi aku sempat mengerem” Kesalku.

“Udah ih kamu ini ngomel mulu, entar kamu jadi makin tua lagi” Bantahnya.

“Kamu ni ya dikhawatirin juga” Jawabku dengan kesal.

“Iya iya maaf ya Desta yang ganteng” Ucapnya dengan menunjukkan senyum sok polosnya.

“Terserahlah. Ohya kamu mau ngapain kerumahku?” Tanyaku.

“Oh itu, ada yang mau aku kasih ke om sama tante” Jawabnya.

“Oh gitu. Ya udah kamu masuk aja gih ke mobilku biar sekalian” Tawarku.

“Hmm ya deh”

Aku pun kemudian melanjutkan perjalananku menuju rumahku dan memarkirkan mobilku di garasi rumahku, kemudian kami pun berjalan masuk kerumah.

“Ibu, Ayah Desta pulang” Teriakku.

“Wah ada nak Riana juga” Ucap ibuku ketika melihatku pulang bersama dengan Riana.

“Iya tante, kebetulan ada yang mau aku berikan ke om sama tante” Sahut Riana kepada ibuku .

“Oh iya? Apa yang kamu mau berikan ke tante?” Tanya ibuku.

“Jadi begini tante…” Aku tidak sampai selesai mendengar perkataan Riana karena aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamarku untuk mengganti bajuku dan beristirahat. Aku malas turun lagi.

“Desta!” Panggil ibuku yang membuatku terbangun.

“Iya bu, ada apa?” Tanyaku sambil mengucek kedua mataku.

“Kamu nggak makan malam?” Tanya ibuku kepadaku.

“Hmm iya bu sebentar, aku mau mandi dulu” Jawabku.

Aku pun mandi. 7 menit kemudian aku pun turun untuk makan bersama dengan keluargaku dan rupanya Riana masih berada di rumahku.

“Ayo sini Desta, ini semua Riana loh yang masak” Ucap ibuku sambil memperlihatkan masakan yang ada di meja makan keluarga kami.

“Oh ya? Baiklah akan aku coba” Ujarku.

“Gimana Des?” Tanya Riana.

“Enak kok enak, bukannya aku emang sering makan hasil masakanmu” Jawabku sambil tetap melanjutan acara makanku.

“Eh iya juga sih” Jawab Riana sambil menggaruk kepalanya.

“Riana lain kali lebih sering main kesini ya, mas suka banget sama masakan kamu” Ucap abangku.

“Ah mas Dimas maksa ih hahaha” Jawab Riana.

Sehabis kami makan malam, aku pun mengantarkan Riana hingga pulang.

“Des kamu ingat gak dulu kita sering main di taman itu?” Tanyanya sambil menunjuk sebuah taman yang berada tempat diseberang rumah kami.

“Ingat. Kamu dulu kan sering banget nangis saat aku nggak mau gantian bermain ayunan sama kamu” Jawabku.

“Hahahaha kok kamu malah ingat yang itu sih? Aku kan jadi malu sama diriku sendiri” Ucapnya.

“Kamu malu? Emangnya punya malu ya?” Tanyaku polos.

“Ihh kamu ngeselin banget sih Desta” Kesalnya sambil memukul lenganku berkali-kali dengan tenaga yang tak bisa dibilang lemah.

“Aduh aduh udah dong Rinrin. Sakit tau” Ucapku.

“Biarin aja, biar kamu tau rasa huh” Kesalnya dan ia pun meninggalku sendirian didepan taman tersebut. Ia dengan santainya masuk kedalam rumahnya.

“Cewek emang sensitif ya ckckck” Gumamku sambil tertawa ringan.

“Astaga! Aku lupa menghubungin Kamellia tadi saat aku sampai rumah” Aku pun tersadar jika aku lupa menghubungi Kamellia.

Sesampai dirumah aku pun langsung menghubungi Kamellia dan ia memakluminya.

Keesokkan malamnya aku Menjemput Kamellia untuk datang ke hotel tempat dirayakannya ulang tahun Riana yang ke-21 pada tanggal 13 Juli.

“Aku harap Riana suka dengan kado yang kita berikan ya Desta” Kata Kamellia sambil tersenyum kearahku.

“Iya Mell” Jawabku tanpa memperhatikannya karena aku sibuk mengemudikan mobilku.

Sesampainya kami di Hotel Melia Purosani . Aku pun memarkirkan mobilku diparkiran mobil yang ada di hotel tersebut.

“Kamell kamu tau nggak kalau hotel ini adalah hotel favorit Riana. Dia sangat menyukai desain eksterior dari hotel ini dimana hotel ini mengambil tema ‘Garden’.” Beritahuku kepada Kamellia.

“Oh ya? Wah aku yakin pasti Riana benar-benar menyukai hotel ini” Jawabnya.

Setelah sampai di Ballroom kami pun langsung mencari keberadaan Riana dan aku pun menemukannya sedang berbicara dengan ayahnya dengan ia yang mengenakan salah satu long dress berwarna biru Shappire yang dulu pernah aku berikan kepadanya.

“Riana! Selamat Ulang tahun ya” Ucap Kamellia dengan riangnya kepada Riana.

“Makasih banyak ya Kamelli” Balas Riana dan ia pun memeluk Kamellia.

“Ekhem” Dehamku.

“Oh iya aku lupa dengan kehadiranmu Desta” Kata Riana sambil memukul pelan bahuku.

“Oh masa iya kamu bisa tidak menyadari kedatangan sahabatmu yang sangat tampan ini?” Ucapku PD dan Riana pun hanya membalasnya dengan berpura-pura muntah.

“Ekhem. Malam para tamu terhomat. Disini saya sebagai ayah dari Deswita Patriana ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada putriku yang tercinta dan semoga saat ia akan menempuh pendidikan S2nya di Jerman ia akan lancar dalam menjalaninya. Selamat Ulang Tahun untuk Riana” Ucap ayah Riana seraya mengangkat gelas minumnya dan diikuti oleh para tamu, tetapi hanya aku saja yang terdiam dan menatap Riana dengan tatapan tak percaya. Perkataan ayah Riana sungguh membuat hatiku gelisah. Mengapa Riana tak pernah mengatakan kepadaku bahwa ia akan melanjutkan pendidikannya di Jerman? Apakah ia sengaja merahasiakan hal ini dariku?

“Kalau begitu mari kita masuk ke dalam tahap meniup lilin” Ucap ayah Riana lagi.

“Ayo Riana” tarik Kamellia. Aku pun tidak bergeming dari posisiku, ketika semua orang sedang sibuk memperhatikan Riana meniup lilin di kue ulang tahunnya dan saat Riana meniup lilinnya aku pun pergi dari hotel tersebut tanpa seorang pun yang memperhatikanku. Tetapi sepertinya aku tidak merasa bahwa ada seseorang yang melihatku dengan pandang menyesal dan sendu.

Keesokkan paginya ketika aku belum bangun dari tidurku, seseorang datang kedalam kamarku dan menaruh sebuah kotak diatas meja yang ada didalam kamarku dan setelah itu orang tersebut keluar lagi dari dalam kamarku.

Pada pukul 8.30 aku pun terbangun dari tidurku, setelah itu aku mandi dan aku pun turun untuk sarapan.

“Des kok tumben kamu telat bangun?” Tanya ibuku ketika berpapasan denganku yang sedang sarapan di meja makan.

“Iya bu, semalam aku tidak bisa tidur.” Jawabku sambil melanjutkan sarapanku.

“Bu aku berangkat ke kantor dulu ya” Pamitku kepada ibuku.

“Iya nak, hati-hati ya membawa mobilnya” Balas ibuku.

Ketika melewati rumah Riana aku melihat rumah itu sepi dan aku juga tidak melihat Dream Catcher yang biasanya Riana pasang diluar jendela kamarnya. Tetapi aku berpura-pura tidak peduli akan hal itu dan kemudian aku pun melanjutkan perjalananku ke kantor.

Keadaan di kantor sama saja seperti hari-hari lainnya, tetap menyenangkan tetapi entah mengapa hatiku tidak bisa seceria biasanya. Ketika jam makan siang aku pun menghubungi Kamellia untuk makan siang bersama dan kami pun makan di Peacefully Cafe.

“Des kok tadi malam kamu tiba-tiba ngilang sih?” Tanya Kamellia.

“Ayahku tiba-tiba menelepon bahwa mobilnya mogok dan aku harus menjemputnya” Dustaku.

“Benarkah? Lalu bagaimana dengan mobil ayahmu apakah sudah baik?” Tanya Kamellia lagi.

“Hmm iya sudah” Jawabku acuh sambil mengaduk Green Passionku, hari ini aku ingin meminum minuman yang berbeda dari biasanya.

“Hah… Desta apakah kamu tau jika Riana telah pergi ke Jerman hari ini?” Tanyanya lagi.

“Tidak aku nggak tahu, dan nggak mau tau juga.” Balasku.

“Kok kamu gitu sih? Riana kan sahabat baikmu” Ucap Kamellia.

“Udah ah aku lagi malas membahas tentang dia. Kamu sudah selesai makan? Kalau sudah ayo kita kembali ke kantor” Ucapku kepada Kamellia dengan nada yang sedikit keras.

Setelah aku mengantarkan Kamellia ke kantornya aku tidak kembali ke kantor lagi karena jadwalku hari ini memang hanya sampai setengah hari saja. Karena sedang dalam keadaan pikiran yang suntuk akhirnya aku pun pergi ke taman yang ada diseberang rumahku.

Ketika aku sedang mengingat kisah masa kecilku bersama dengan Riana. Aku ingat ketika saat itu Riana diganggu dengan anak-anak cowok dari lingkungan sebelah dan ia pun menangis, tak lama setelah itu aku pun datang untuk membelanya dan sejak saat itu aku selalu berjanji untuk selalu bersamanya dan juga selalu menjaganya.

Karena bosan aku pun pulang kerumah dan ketika aku masuk ke kamarku aku melihat sebuah kotak yang asing bagiku, kemudian aku pun membuka kotak itu dan melihat isi dari kotak itu. Di kotak ini terdapat sebuah surat yang berisi tulisan seseorang yang sangat aku kenal. Surat itu berisi

Dear Desta

Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu. Sesungguhnya kamu adalah orang yang selama ini telah mengambil hatiku. Sesungguhnya pun akulah yang telah dengan sukarela menyerahkan hatiku kepadamu.

Aku ingin meminta hatimu juga, tetapi sepertinya aku tidak akan sanggup dan juga tidak akan bisa karena hatimu tidak akan pernah menjadi milikku.

Des… aku minta maaf ke kamu karena aku memutuskan untuk melanjutkan S2-ku di Jerman tanpa menceritakannya terlebih dahulu kepadamu, sejujurnya aku ingin menceritakannya kepadamu tetapi aku tidak pernah bisa menceritakannya ke kamu.

Terimakasih atas 21 tahun yang berharga untukku Desta, mungkin setelah menyelesaikan S2-ku di Jerman aku tidak akan kembali ke Indonesia untuk waktu yang lumayan lama karena aku juga telah mendapatkan pekerjaan disana.

Love

Deswita Patriana

Your Beloved Bestfriend

Setelah aku membaca surat itu aku pun hanya bisa termenung memikirkan Riana dan masa-masa yang telah kami lalui bersama. Sesungguhnya aku tidak rela jika Riana pergi meninggalkanku dan aku juga sungguh menyesal karena tidak pernah menyadari perasaan Riana kepadaku yang ada malah aku sering menyakiti perasaannya dengan mengajak Kamellia makan di kafe langganan kami berdua, selalu pergi bersama dengan Kamelli, lebih meluangkan waktuku kepada Kamellia, dan bertindak seolah-olah kami hanyalah teman biasa.

Sejujurnya aku ingin mencegah kepergian Riana, tetapi sepertinya sudah terlambat. Aku tidak mungkin akan bisa mencegah dan melarangnya pergi dari sisinya. Ini sungguh telah terlambat.

Selain surat itu, ternyata kotak itu juga berisi hadiah-hadiah yang telah aku berikan kepada Riana. Seperti boneka Cookie Monster, novel, dan juga buku sketsa. Karena penasaran aku pu membuka buku sketsa Riana.

Di dalam buku sketsa itu ada banyak sekali hasil gambaran Riana, tetapi ada 1 gambar yang sangat menyentuh perasaanku yaitu gambar dari sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang berpelukkan diantara daun-daun Maple yang berguguran. Dibawah gambar tersebut tertulis ‘I hope we can be like this couple Desta’.

            Lagi-lagi aku merasa menyesal kepada Riana. Setelah itu aku pun memasukkan semua barang-barang itu kembali kedalam kotak tersebut dan kemudian aku mengambil handphoneku, aku pun mencoba untuk menghubungin Riana tetapi nomornya sudah tidak dapat dihubungi lagi.

“Desta, ayo makan malam sayang” Panggil ibuku.

“Ya bu sebentar” karena aku tidak ingin membuat keluargaku menunggu lama dan juga ada hal yang ingin aku tanyakan kepada kedua orang tuaku, aku pun akhirnya langsung turun.

“Ayah, ibu apakah kalian tahu perihal kepindahan Riana ke Jerman?” Tanyaku kepada ayah dan ibuku.

“Tentu saja, saat ia terakhir kali datang kerumah itu ia memberikan ayah dan ibu sebuah bingkisan dan juga berpamitan kepada kami. Mengapa Desta?” Ujar Ayahku.

“Tidak ada yah” Jawabku. Ternyata hanya aku seorang yang tidak mengetahui perihat kepergian Riana.

“Yah, bu, bang aku sudahan ya. Aku ngantuk, ingin beristirahat.” Ucapku kepada ayah, ibu, dan abangku.

“Iya Des” Sahut ibuku.

Setelah itu aku pun langsung beristirahat, tetapi aku sepertinya tidak bisa tidur. Aku pun hanya memutar-mutarkan badanku diatas kasur hingga akhirnya waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. Aku pun memaksakan mataku untuk tidur.

Sebulan telah berlalu semenjak kepindahan Riana dari Jogja ke Jerman. Seringkali aku dipanggil oleh bos ku karena kinerja kerjaku menurun dan juga tak jarang aku menghasilkan foto-foto yang kurang bagus.

“Des kamu kenapa sih akhir-akhir ini sering ngelamun dan juga ngecuekkin aku?” Tanya Kamellia ketika kami sedang makan siang bersama.

“Hmm nggak ada” Jawabku sambil tetap mengaduk-ngaduk spaghettiku tanpa ada niat untuk memakannya.

“Des ada hal yang ingin aku katakana kepadamu. Selama ini aku merasa bahwa jiwamu itu tidak ada bersamaku, tetapi hati dan jiwamu telah dibawa pergi oleh Riana” Ucap Kamellia.

“Mengapa kamu bisa berkata seperti itu Kamellia? Jadi kamu menganggap aku tidak serius denganmu?” Sanggahku.

“Iya. Sejujurnya dari dulu aku telah merasa bahwa kamu memang mencintai Riana dan tidak ada satu pun rasa cinta itu bersisa untukku. Sepertinya kamu hanya merasa kagum kepadaku, sehingga kamu salah mengganggap perasaan kagum itu sebagai perasaan cinta. Sejujurnya aku juga ingin egois kepadamu Des, tapi sepertinya semakin aku egois semakin aku tidak bisa menggapaimu Des. Sepertinya perjuanganku sudah sampai disini saja. Aku sudah menyerah, sekarang saatnya bagi kamu untuk mengejar cintamu yang telah pergi jauh dari jangkauanmu.” Jelas Kamellia yang hanya membuatku diam dan berpikir. Setelah itu aku baru menyadari bahwa perkataan Kamellia itu benar. Aku pun memutuskan untuk menyusul Riana.

“Terimakasih banyak Kamell karena kamu telah menyadarkanku. Aku mendoakan agar kamu bisa menggapai cinta sejatimu” Ujarku sambil memeluk Kamellia dan setelah itu aku pun langsung pergi dari tempat makan kami dan pergi ke kantorku untuk meminta cuti yang lumayan lama kepada bos ku. Bos ku pun memberikan cuti itu karena ia tahu bahwa aku sedang berusaha untuk menggapai inspirasiku kembali.

Sehabis dari kantor aku pun langsung pulang dan members-bereskan barang yang akan aku bawa serta berpamitan kepada kedua orang tuaku bahwa aku akan pergi menyusul Riana ke Jerman. Ibuku adalah seseorang yang paling antusias akan hal itu karena ia tahun bahwa selama ini aku memang memiliki perasaan kepada Riana.

Setelah selesai berpamitan aku pun langsung memesan taksi untuk ke Bandara Adi Sucipto. Sesampainya di bandara aku pun langsung memesan tiket dan kebetulan aku mendapatkan tiket yang keberangkatannya hanya berjarak 1,5 jam dari kedatanganku sehingga aku hanya butuh untuk menunggu waktu keberangkatan tiba.

Keesokkan harinya pada tanggal 21 Oktober aku pun tiba di Jerman. Saat ini Jerman sedang mengalami musim gugur dan udara disini sedikit dingin bagiku, tetapi aku tidak boleh menyerah. Setelah keluar dari pintu kedatagan aku pun langsung masuk ke dalam taksi dan memberitahukan kemana tujuanku dengan menggunakan bahasa Inggris. Sebelum aku berangkat ke Jerman aku sempat menghubungi ayah Riana dan bertanya dimana Riana tinggal, jadi begitu aku sampai di Jerman aku pun langsung menuju apartemen tempat Riana tinggal.

Setelah kurang lebih menempuh waktu 30 menit dari Bandara hingga sampai di apartemen Riana aku pun langsung membayar argo taksiku dengan uang Euro yang sempat aku tukarkan di Moner Charger yang ada di bandara. Aku pun langsung bertanya kepada reseptionis yang ada di apartemen tesebut dimana kamar Riana dengan menggunakan bahasa Inggris tentunya dan untungnya saja reseptionis tersebut mengerti dan ia pun langsung memberitahukan kepadamu dimana kamar Riana.

Sesampainya aku dikamar Riana aku pun langsung memencet bel yang ada didepan pintu Riana, tetapi hingga 25 menit kemudian Riana tidak keluar sama sekali hingga tak lama setelah itu tetangga apartemen Riana datang dan mengatakan kepadaku bahwa Riana sedang pergi berkuliah tentu saja dengan menggunakan bahasa Inggris.

Karena aku tidak tahu akan pergi kemana, aku pun memutuskan untuk berjalan-jalan diantara daun maple yang berguguran di taman yang lumayan luas yang ada diseberang apartemen Riana.

Setelah berkeliling kurang lebih 15 menit aku melihat ada seorang wanita yang sedang termenung melihat daun-daun Maple yang berguguran. Ketika wanita tersebut menghadap samping dan ia pun tersenyum, saat itulah aku menyadari bahwa wanita tersebut adalah Riana. Tanpa kusadari kakiku pun melangkah kearah wanita itu dan aku pun langsung memeluk wanita itu dari belakang, dapat kurasakan bahwa wanita itu kaget karena tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang tetapi ia langsung seperti semula ketika ia mendengar suaraku.

“Riana, maafkan aku. Aku… aku baru menyadari perasaanku yang sesungguhnya kepadamu. Sesungguhnya aku pun mencintaimu Riana. Aku sungguh menyesal karena telah menyakiti perasaanmu begitu dalam.” Ungkapku kepada Riana dan aku dapat merasakan bahwa Riana menangis.

“Riana kumohon jawab permintaan maafku” Ucapku lagi.

“Kamu hiks sungguh sangat bodoh Desta hiks tentu saja aku selalu memaafkan kamu dan tentu saja aku selalu mencitaimu.” Jawab Riana.

Dan setelah itu aku pun memutarkan tubuhnya dan aku pun memelukanya kembali sambil mengucapkan terimakasih kepadanya.

“Bukankah ini yang kamu inginkan Riana? Berpelukkan ditengah-tengah daun Maple yang berguguran?” Tanyaku menggodanya.

“Ih kamu menyebalkan” Jawabnya sambil menyubit lenganku dan masih tetap menangis bahagia.

“Apakah sekarang aku sudah bisa mengetahui alasan mengapa kamu memanggil aku dengan sebutan ‘Alien’?” Tanyaku kepada Riana.

“Aku manggil kamu Alien itu ya karena selain pintar, kamu itu jelek, dingin, nggak peka, dan banyak hal lainnya yang bikin kamu mirip kayak Alien” Jawabnya.

“Oh jadi itu alasannya. Awas aja ya entar aku kelitikin” Kesalku.

“Tangkap saja aku kalau kamu bisa” Tantang Riana dan setelah itu dia pun berlari hingga terjadi aksi saling kejar-mengejar antara kami.

Sementara di tempat yang lain kita dapat melihat seorang wanita yang sedang berjalan diantara orang-orang yang berlalu-lalang. Wanita tersebut berjalan tanpa memperhatikan jalan yang ada didepannya sehingga ia pun menabrak seorang pria hingga membuat orang itu jatuh.

“Aduh maaf mas saya tidak sengaja.” Sesal wanita itu kepada pria tersebut

“Iya tidak apa-apa mbak” Balas Pria itu.

“Sekali lagi maaf ya mas.” Sesal wanita itu lagi.

“nggak apa-apa kok mbak, saya juga nggak luka kok. Oh iya kalau boleh tau mbak namanya siapa ya?” Tanya pria tersebut.

“Oh nama saya Dahwana Kamellia mas” Jawab wanita yang ternyata Kamellia kepada pria tersebut.

“Nama saya Dimas Kharisma Saputra. Senang berkenalan dengan kamu Kamellia” Balas pria tersebut sambil menjabat tangan Kamellia dan juga tersenyum.

******************************************************************

Kita pasti sering mendengar perkataan orang-orang yaitu dimana cinta akan datang karena terbiasa bersama. Tetapi orang-orang tersebut tidak pernah memikirkan bahwa orang – orang yang tidak sadar akan cintanya karena mereka terlalu terbiasa bersama – Desta Khurniawan Saputra

Persahabatan selalu diiringi dengan cinta, cinta dalam persahatan dengan cinta sejati sesungguhnya sangat berbeda tipis. Tetapi terkadang kamu selalu mengharapkan cinta yang lebih dari cinta persahabatan – Deswita Patriana

Cinta? Cinta adalah perasaan dimana kamu tidak harus memaksakan kehendak orang itu agar kamu dapat memiliki cintanya, tetapi kamu harus berusaha untuk menggapainya walaupun terkadang kamu sudah menyerah akan cinta itu. Tetapi sesungguhnya secara perlahan cinta itu akan datang kepadamu karena kamu telah berusaha untuk menggapainya – Dahwana Kameliia

Cinta Mungkin datang tidak selalu datang disaat yang tepat, tetapi cinta tidak akan pernah salah memilih dengan siapa ia akan bersinggah – Dimas Kharisma Saputra

-SELESAI-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s